Myspace

I'm assumayyah
From istana prosa
Previous Post
Archives
My Friends
Clock
Links
MySpace Layouts

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Template by
Free Blog Template by Request
Indonesian Muslim Blogger
MySpace Layouts

Iseng
MySpace Layouts

layout for myspace

layout for myspace

MySpace Layouts

MySpace Layouts

MySpace Layouts

myspace layout

Myspace

layout for myspace

myspace layout

MySpace Layouts

MySpace Layouts

MySpace Layouts

MySpace Layouts

Myspace layouts

MySpace Layouts

MySpace Layouts

Friday, December 15, 2006
Untuk kalian sahaba2 terbaikku...
PERSAHABATAN YANG KHUSNUL KHOTIMAH

Pernahkah kita coba menghitung berapa jumlah teman yang kita miliki?
Pernahkah pula kita membuat daftar
dan menghitung jumlah sahabat yang saat ini benar-benar masih layak
disebut sebagai sahabat?

Sangat boleh jadi, sebagian dari teman dan sahabat itu sudah tidak kita
ketahui kabarnya untuk beberapa tahun
belakangan. Bahkan, bertegur sapa pun mungkin tidak karena kita telah
lost contact atau kehilangan kontak
dengannya. Jangankan untuk kabar teman lama, sahabat lama pun bisa saja
kita sudah tak tahu kabar mereka.
Atau, malahan mereka telah menjadi mantan& yang tak ingin lagi kita
temui. Ow!

Istilah teman dan sahabat secara tidak sengaja memang ada pada
klasifikasi masing-masing, mulai dari teman biasa yang ada secara
kebetulan (semisal teman sekolah, tetangga, dan sebaginya) pasti
sebagian dari mereka ada yang kita
akrabi dan ada yang tidak. Untuk sahabat, boleh jadi kedekatan karena
ada pada ruang dan waktu yang sama, boleh jadi pula ada sahabat yang
sesahabat-sahabatny a. Sahabat kental akan menjadi belahan jiwa yang akan
terasa hambar
tanpa kehadirannya. Maka ruang dan waktu pun tak akan cukup membatasi
jalinan yang ada.

Diantara tingkatan-tingkatan itu, semuanya ada pada range pertemanan dan
persahabatan. Apapun klasifikasinya, persahabatan akan selalu ada dalam
hidup kita, meski dengan orang yang berganti-ganti.
Tengoklah sahabat waktu di SD, biasanya berbeda dengan ketika duduk di
bangku SMP atau SMA, apalagi di bangku
perkuliahan. Sahabat selalu berganti dan bervariasi.

Lalu, factor apa saja yang biasanya membuat kita dekat satu sama lain?
Karena kita punya kelas yang sama,
punya kegiatan yang sama, punya hobi yang sama, punya idola yang sama,
atau, punya tujuan yang sama. Tak
ayal, dari berbagai tujuan itu muncullah kelompok, organisasi atau
perkumpulan yang kita ikuti karena di
situlah ada sinergi. Ketika kelompok ini mulai berganti, ketika jarak
dan waktu tak memungkinkan lagi
untuk berkumpul, beraktivitas bersama atau sekadar bercengkerama
bersama, masing-masing dari kita pun
mulai mengambil jarak dan kelompok-kelompok baru, sahabat-sahabat baru.
Sahabat yang lama pun mulai
jarang bertemu, pun tingkat keakraban serta merta melonggar.

Gambaran tersebut belum memperhitungkan kemungkinan adanya konflik yang
pada beberapa kasus boleh jadi
menjadi sekat dan dendam kesumat yang memisahkan persahabatan. Maka,
bergantinya sahabat dari masa ke
masa telah menjadi sebuah keniscayaan. Menilik persahabatan demi
persahabatan yang telah kita semai,akhirnya akan muncul satu penyimpulan
bahwa: persahabatan pun ada masanya. Ada masa ketika kita begitu lekat
dan cair, ada masa ketika kita mulai meninggalkan. Namun, satu yang
pasti, bahwa persahabatan tetaplah didasari oleh sebuah kepentingan.
Bagi saya, persahabatan tanpa pamrih adalah bulshit, sekadar pengelakan
dan upaya untuk menjaga sebuah ketulusan dalam persahabatan.

Ketika kita memulai persahabatan dengan seseorang, baik secara individu
maupun dalam kelompok/ komunitas,
kepentingan itu dapat berupa penyaluran hobi, keinginan berbagi dan
mendapatkan wawasan dan atau
pencerahan . atau, malahan, kepentingan untuk merubah? Nah, itulah
kepentingan! Untuk melebur bersama, seringkali kita coba elak untuk
disebut sebagai kepentingan atau pamrih.
Maka, ketika kepentingan itu mulai tak ada, di situlah persahabatan akan
memudar bahkan terputus. Kadang
kala, perpisahan itu terjadi begitu saja tanpa kita sempat (dan
menyempatkan diri) untuk berpamit dan menorehkan kenangan perpisahan
secara manis menjelang perpisahan. Dus, tiba-tiba jarak pun membentang,
memunculkan rasa sungkan dan canggung ketika bertemu
kembali.Kenangan- kenangan masa silam hanya menjadi sebuah nostalgia yang
hanya sesakali bisa kita lihat dan tengok di saat-saat tertentu dalam
wujud reuni dan sekadar mengenang. Dan tentu, sangat susah untuk kita
kembalikan seperti masa keakraban dulu. Waktu telah menggeser rasa, rasa
persahabatan yang kita cecap. Disanalah kita diingatkan bahwa kita telah
terlambat bersyukur, betapa nikmatnya sebuah kebersamaan dalam
persahabatan.

Akankah persahabatan itu mengalir untuk terlupakan, mengalir untuk
dikenang dalam diam menjelang turunnya lelap di malam hari. Atau, lebih
dari itu, mengalir untuk sesekali kita tengok secara riil lewat sekadar
sapaan hallo dan menanyakan kabar terakhir, saling membantu dan
bekerjasama dalam keadaan yang baru?

Ya, terkadang kita lupa berdoa agar persahabatan pun menjadi khusnul
khotimah, berakhir dengan baik. Apa pun konfllik yang sedang terjadi,
dari masa ke masa,kita seringkali lupa untuk menyempatkan berdoa semoga
di masa mendatang akan berakhir dengan baik.

Rasululloh sendiri pernah mengingatkan agar kita jangan terlalu
mencintai sesuatu karena boleh jadi apa yang kita cintai itu akan
menjadi kita benci. Pun sebaliknya, jangan terlalu membenci sesuatu
karena boleh jadi apa yang kita benci akan menjadi kita
cintai di kelak kemudian hari.

Apapun itu, doa agar persahabatan, sebaik atau seburuk apapun saat ini,
semoga akan menjadi khusnul khotimah, tetaplah butuh usaha.
Rasululloh pun meneladankan usaha memupuk persahabatan ini, yakni dengan
menjalin tali silaturahmi, saling
berkunjung, saling bertegur sapa. Baik untuk masa sekarang, baik juga
untuk masa mendatang. Tentu saja,
khusnul khotimah, baik pada akhirnya.
posted by assumayyah @ 5:41 PM   |
0 Comments:
Post a Comment
<< Home